Do'a Rabithah Islamiyah

اللهم إنك تعلم أن هذه القلوب ، قد اجتمعت علي محبتك ، و التقت علي طاعتك ،

و توحدت علي دعوتك ، و تعاهدت علي نصره شريعتك ..


فوثق اللهم رابطتها ، و أدم و دها ، و اهدها سبلها ، و املأها بنورك الذي لا يخبو ..

و اشرح صدورها بفيض الإيمان بك ، و جميل التوكل عليك ..

و أحيها بمعرفتك ، و أمتها علي الشهادة في سبيلك .

إنك نعم المولي و نعم النصير


Read More......

Menangislah...!

Mari kita tatap wajah orang-orang tercinta kita....
Ayah kita
Ibu kita
Suami atau istri kita
Kakak dan adik kita
Anak-anak kita
Saudara-saudara kita
Sahabat dan teman-teman kita...

Rasakan cinta yang senantiasa mengalir dan tersirat dari perbuatan mereka
Dan coba tatap lembut wajah mereka saat tidur
terlelap
Betapa mereka begitu berharga dalam hidup kita…
Cium tangan mereka

Rasakan getar cinta yang deras mengalir dalam diri kita
Akan bukti cinta mereka selama ini
Hari-hari yang telah mereka lalui bersama kita
Bahkan mereka menyembunyikan kelelahan dan keluh-kesah dari diri kita
Tetap tersenyum pada kita
Kebahagiaan mereka adalah apa yang bisa mereka beri
Bukan balasan
apa yang akan mereka terima

Mari merasakan mereka yang begitu merindukan kita
Kita juga begitu merindukan mereka

ingin bisa menatap keteduhan wajah mereka yang mulai keriput
Namun kita tak bisa menemuinya saat ini
segera
Bayangkan seandainya terjadi sesuatu dengan orang tercinta kita
Tanpa kita ada disana
Tiada hadir disisinya
Tak punya andil dalam kesusahanya
Sedang mereka begitu mengharap-harap kehadiran kita
Anak yang mau menemani mereka
Pada sisa kehidupan mereka...
Pada
detik-detik pertemuan mereka...
Kita tidak tahu, siapakah yang lebih dulu dipanggil Allah
Apakah orang tua yang kita cintai atau kita lebih dahulu

Sedang kepastian pastilah menjemput...

Read More......

Suara Hatiku

Dalam tatap langit
Aku juga ingin menatap bintang lama-lama
Walau kusadari itu bukanlah purnama
Walaupun aku takkan pernah bisa menyentuhnya
Aku cuma ingin memandang
Memperlihatkan sebuah kerinduan
Dan ketidak-sampaian akan sebuah harapan
Dan akupun akan terus menunggu untuk beberapa malam...

Dalam sebuah perjuangan
Masa sering melupakan, ataukah memang terlupakan!…
Tapi aku tahu sebuah gejolak hanyalah sepenggal kisah
Takkan pernah bisa melupakan kerinduan padanya
Namun apa hendak dikata jika harus memilih dan berkorban dalam satu waktu!..

Cahaya mentari itu
Hanya mampu bersinar dalam baraku
Dan hanya api terdekatlah nyalaku
Membuihkan embun ciptakan mutiara
Dan tahukah sekarang siapa mutiaraku
Kalian adalah bagian dari kuncup api itu…
Dan segala persembahan tanganku berterima kasih padamu
Sampai nanti selesai pengembaraanku

Hadirnya bawa kecerahan
Tak semudah lara terlupakan
Demikian banyak pundakku berderak
Gunung yang ditanggungkan sampai berapa lama menjadi bumi ini!
Tahukah ia, masa yang habis sudah tercuri jalanku panjang…

Masa yang semakin aneh
Nasehat sudah jauh tercampak
Kepandaian yang semakin melonjak semuapun terjebak
Maka kata emas semoga adalah kenyataanku
Tak terpisahkan dengan do'a, cukuplah jadi apapun yang mampu terucapku
Dan hanya itulah yang mampu kuhadiahkan padanya
Pengharapan do'a dan syukur dari amalan kecil hamba

Jika satu kata tak lagi cukup berarti
Apalah arti berucap…
Jika semua adalah hati
Tak perlu lagi segala yang jahat

Kegelapan yang hadir
Keabadian adalah kemenangan
Dan nyala yang bergoyangpun musnah…

Berlembar-lembar berlian ukiran pena
Begitu sia-sia
Kebodohan, kekayaan itupun lalu hilang percuma
Hingga aku rela berlepas pinggang, sempat jatuh dalam jurang
Baru tahulah aku, apakah sebenar kerugian…

Apakah hijau itu masih bermakna
Dalam kebutaan langkah
Daun-daun itu adalah sementara kedamaianku

Tahulah bahwa segala yang terang adalah mentari
Bagi kami, bumi pun musnah lagi
Hirup kedamaian dari sebuah bui

Puncak langkahku tak pasti
Namun fikirku sudah terhenti
Harus menunggu apa lagi?
Ku ingin memenangkan gejolak kini

Pijakan yang sedemikian banyak kususun
Kerikil sedemikian banyak kusandung
Masih kurangkah bekalku?
Dalam pengembaraan panjang
Kurengkuh derita, masihkah aku terlena?

Jalanku, jalanku jauuuh sekali…
Sering kulupa langkah apakah ini
Sering pula tak sadar dimanakah aku kini
Bagaimana aku pulang...

Dinginya hujan, aku sekarang bersama guyuranya
Petir yang menyambar hanya mengganggu lamunanku saja
Aku tak bergerak lagi, menunggu tuk keluar
Setelah sekian lama dan terbang lagi…

Aku benci berisik
Aku yang tlah hilang
Dimanakah darah mendidih itu, apakah telah beku?
Takkan percaya, ini hanyalah garis lamunan yang kian menjalin namaku…

Kapan aku harus berkata
Sedang mulutkupun sering lupa
Kapan aku sadar
Dalam kedamaian nafas tak terlupakan…

Dan nantikan,
Sampai hilang mati kelaparan
Sampai satu purnama baru datang
Aku akan segera berpulang
Kala bintang ramai menghilang
Kala musim semi datang
Ku tak ingin bunga-bunga berguguran
Dan bunga barupun bermunculan
Walau entah dalam kelelahan…
Karena aku harus terus berkejaran…


Read More......
Template by : Kendhin x-template.blogspot.com